RISIKO KEJADIAN FILARIASIS PADA MASYARAKAT DENGAN AKSES PELAYANAN KESEHATAN YANG SULIT

Santoso Santoso(1)

(1) Loka Litbang P2B2 Baturaja
() Korespondensi Penulis
Abstrak Dilihat: 2966 , PDF Unduh: 2008
Kata Kunci: Riskesdas, filariasis, faktor risiko, akses pelayanan kesehatan

Abstrak

Penyakit Kaki Gajah (filariasis) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria (microfilaria) yang dapat menular dengan perantaraan nyamuk sebagai vektor. Filariasis menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah penderita kronis yang dilaporkan sebanyak 6233 orang yang tersebar di 1553 desa, di 231 kabupaten dan di 26 Propinsi. Berdasarkan hasil survey tahun 2002-2005 jumlah penderita terbanyak ditemukan di Sumatera dan Kalimantan dengan 84 kabupaten/kota memiliki microfilaria rate 1% atau lebih, hal ini menggambarkan bahwa seluruh daerah di Sumatera dan Kalimantan merupakan daerah endemis filariasis. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang rendah merupakan salah satu factor risiko peningkatan kasus filariasis sehingga perlu dilakukan analisis untuk mengetahui hubungan akses pelayanan kesehatan dengan kejadian filariasis. Analisis dilakukan terhadap data Riskesdas tahun 2007. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara akses pelayaan kesehatan terhadap kejadian filariasis yang meliputi: jarak dan waktu tempuh ke RS, PKM, Pustu, Dokter dan Bidan praktek, Posyandu dan Poskesdes; ketersediaan sarana transportasi ke sarana kesehatan.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Author Biography

Santoso Santoso, Loka Litbang P2B2 Baturaja

Jl. Jend. A. Yani KM 7 Kemelak, Baturaja, OKU.
Telp. 0735325303, Fax: 0735322774, HP: 085267116300

Referensi

1. Depkes RI. Pedoman Program Eliminasi Filariasis di Indonesia. Dirjen PP&PL, Depkes RI, 2008.
2. WHO. Lymphatic filariasis: Epidemiology. Available from: http://www.who.int/lymphatic_filariasis/ epidemiology/en/. Download: 12 January 2011.
3. Depkes RI. Epidemiologi Filariasis. Dirjen PP&PL, Depkes RI. 2008.
4. Infeksi.com. Filariasis. Pusat Informasi Penyakit Infeksi. http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=32. Download: 17 January 2011.
5. Budiarto,E.& Dewi A. Pengantar Epidemiologi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 2003.
6. Taniawati Supali, Herry Wibowo, Paul Ru¨ Ckert, Kerstin Fischer, Is S. Ismid, Purnomo, Yenny Djuardi, and Peter Fischer. High Prevalence of Brugia Timori Infection In The Highland Of Alor Island, Indonesia. am. J. Trop. Med. Hyg., 66(5), 2002, pp. 560–565.
7. Taniawati Supali, Agnes Kurniawan, Sri Oemijati. Epidemiologi Filariasis. Dalam:Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi Keempat. Editor: Sutanto I., Ismid IS., Sjarifudin PK., Sungkar S. FKUI. Jakarta, 2008. Hal:40-42.
8. Taniawati Supali, Agnes Kurniawan, Felix Partono. Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Dalam:Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi Keempat. Editor: Sutanto I., Ismid IS., Sjarifudin PK., Sungkar S. FKUI. Jakarta, 2008. Hal: 32-39.
9. Santoso, Singgih. Buku Latihan SPSS Statisti Non Parametrik. PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2001.
10. Ompusungu S., Siswantoro H., Purnamasari T., Dewi RM. Pelaksanaan Pengobatan Massal Filariasis di Beberapa Daerah dengan Frekwensi Pengobatan Berbeda. Jurnal Penyakit Menular Indonesia. Vol. 1 No.1-2009. Hal: 10-19.
Diterbitkan
2020-07-01
Bagaimana Mensitasi
Santoso, S. (2020). RISIKO KEJADIAN FILARIASIS PADA MASYARAKAT DENGAN AKSES PELAYANAN KESEHATAN YANG SULIT. Publikasi Penelitian Terapan Dan Kebijakan, 5(2). https://doi.org/https://doi.org/10.46774/pptk.v5i2.212